SEJARAH

Keadaan Pemerintahan dan Asal Usul Desa Cikondang Pada akhir kejayaan Kerajaan Talaga Manggung di Talaga, yaitu kira-kira pada tahun 1500 Masehi. Berdasarkan legenda dan mitos yang tumbuh dikalangan masyarakat, konon pada waktu itu Tanah Cikondang merupakan Pertapaan salah satu keluarga Raja Talaga Manggung yaitu Raden Raga Hiang dan Anggahiang tempat pertapaannya Batulawang atau Gunung Agung. Sementara itu dalam pengabdiannya semua para Panakawan sambil menunggu pertapaannya mulai ngababakan (membuka pemukiman) di dekat pertapaan tersebut yang kemudian di beri nama dengan “Babakan Tarikolot“ (sekarang sudah menjadi lahan persawahan). Pada saat Kerajaan Talaga Manggung jatuh oleh serangan Kesultanan Cirebon, para Keluarga Raja terus dicari dan diburu oleh bala tentara Cirebon, termasuk Raga Hiang dan Anggahiang di pertapaan Batu Lawang. Serangan ke Batu Lawang dipimpin oleh Ratu Agung Hidayatulloh dan Kyai Arumawatdjati. Raden Ragahiang dan Angggahiang beserta panakawannya kalah, kedua ksatria itu tidak mau menyerah, sehingga keduanya menghilang beserta jasadnya yang terkenal dengan istilah “Ngahiang“. Tempat ngahiang kedua ksatria itu (di dekat pertapaan) dinamakan “Situhiang“ yang dulu tahun 1982/1983 dilestarikan melalui CEKDAM, namun sayang sekarang sudah dijadikan kembali lahan persawahan. Kedua ksatri itu pun kemudian terkelnal dengan nama Raden Ragahiang dan Raden Anggahiang. Para Panakawan Raden Ragahiang dan Raden Anggahiang kemudian memeluk Agama Islam. Babakan Tarikolot terus berkembang menjadi Pilemburan. Hal ini karena kesuburan tanah dan kearifan pemimpinnya, yaitu Kyai Arumawatdjati di dalam Syiar Islam, Ratu Agung Hidayatulloh dan bala tentara lainnya pulang ke Cirebon. Yang tinggal adalah Kyai Arumawatdjati. Karena penduduk Tarikolot semakin banyak, dan lahan subur pun semakin sempit, diantara mereka kemudian membukan babakan baru, yang kemudian diberi nama Babakan Cilengkeng, Babakan Dawolong dan Babakan Walahar. Ketika masyarakat pada ke empat Babakan tersebut di atas mengalami krisis air, maka kepemimpinan dilanjutkann oleh Kyai Arumawatdjati mereka bermunajat kepada Alloh SWT., memohon sumber air. Do’a mereka dikabulkan oleh Alloh SWT, sehingga keluarlah mata air dari bawah pohon Kondang. Dari sanalah lahirlah nama Cikondang. Kampung Cikondang yang terdiri dari lembur Tarikolot, Babakan Cilengkeng dan Babakan Walahar ingin mempunyai pemerintahan tersendiri. Masyarakat menghendaki agar Kyai Arumawatdjati berkenan mau memimpin masyarakat Cikondang. Tetapi karena beliau sudah Udzur sehingga dengan arif beliau tidak bersedia. Kemudian masyarakat mempercayakan tumpuk pimpinannya kepada santri (murid) kepercayaan Kyai Arumawatdjati yaitu Kyai Amung Pancas. Sehingga Kyai Amung Pancas merupakan Kepala Desa pertama Cikondang yang masa pemerintahannya diperkirakan pada tahun 1570 sampai dengan tahun 1620. Para Kepala Desa di bantu dengan para Jurutulisnya yang pernah memimpin Desa Cikondang dari awal berdirinya sampai sekarang.

Pada tahun 1984, berdasarkan keputusan Gubernur KDH. Tk.I Jawa Barat tahun 1992/1993 nomor: 01/PEM/157/KAB/1993 Desa Cikondang dimekarkan menjadi 2 (dua) Desa yaitu Desa Cikondang sebagai Desa Induk dan Desa Kondangmekar sebagai Desa Pemekaran. Itulah risalah singkat Desa Cikondang dari tahun ke tahun semoga lebih meningkat, baik itu dalam pembangunan fisik, maupun pembangunan non fisik, yang tidak terlepas dari pada KESATUAN dan PERSATUAN, karena Kesatuan dan Persatuan adalah modal utama dalam pembangunan.

KEPALA DESA YANG PERNAH MENJABAT DI DESA CIKONDANG

I. JAMAN PENJAJAHAN (SEBELUM KEMERDEKAAN) TAHUN 1570 S/D 1945 M

  1. KEPALA DESA: Kiai Amung Pancas
    JURU TULIS: Dari Dalem Kraton
    TAHUN: 1570 – 1620
  2. KEPALA DESA: Buyut Konde
    JURU TULIS: Talaga Manggung
    TAHUN: 1621 – 1700
  3. KEPALA DESA: Buyut Japar
    JURU TULIS: Talaga Manggung
    TAHUN: 1701 – 1764
  4. KEPALA DESA: Arban Kerta Manggala
    JURU TULIS: Talaga manggung
    TAHUN: 1765 – 1825
  5. KEPALA DESA: Sungkin Jaid
    JURU TULIS: Sura Marga
    TAHUN: 1826 – 1869
  6. KEPALA DESA: Daim Parta Wijaya
    JURU TULIS: Sukarta Wijaya
    TAHUN: 1870 – 1900
  7. KEPALA DESA: Sura Marga
    JURU TULIS: Wangsa
    TAHUN: 1901 – 1909
  8. KEPALA DESA: Suma Wijaya
    JURU TULIS: Rd. Suminta Atmaja
    TAHUN : 1910 – 1946

II. SETELAH KEMERDEKAAN R.I. 1945

A. Pemerintahan Desa Cikondang Masuk Wilayah Administrasi Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka Tahun 1945 s/d 1980

  1. KEPALA DESA: Sumitra
    JURU TULIS: Sudinta
    TAHUN: 1947 – 1951
  2. KEPALA DESA: Nadria Wijaya
    JURU TULIS: Udia Tahun: 1952 – 1968
  3. KEPALA DESA: Saptari
    JURU TULIS: S. Rahmat Wijaya
    TAHUN: 1969 – 1978

B. Desa Cikondang Wilayah Administrasi Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka Tahun 1980 s/d sekarang

  1. KEPALA DESA: S. Rahmat Wijaya
    JURU TULIS: Saleh / Rd. Riana Purhita
    TAHUN: 1979 – 1988
  2. KEPALA DESA: Rd. Riana Purhita
    JURU TULIS: Warya Asmara
    TAHUN: 1989 – 1998
  3. KEPALA DESA: H. Rd. Riana Purhita
    JURU TULIS: Warya Asmara
    TAHUN: 1999 – 2008
  4. KEPALA DESA: Handangsyan
    JURU TULIS: Warya Asmara
    TAHUN: 2008 – 2015
  5. KEPALA DESA: Endi Surjana
    JURU TULIS: Kusdinar
    TAHUN: 2015 – 2021
  6. KEPALA DESA: H.Rd. Riana Purhita
    JURU TULIS: Supriyadi
    TAHUN: 2021 s/d sekarang